Akhir tahun 1970an, istilah “otaku” yang lebih dikenal di Jepang sudah
menyebar ke seluruh dunia. Otaku sendiri berarti orang yang sangat
terobsesi dengan hobi yang
berhubungan dengan manga, anime,
game,dll. Bahkan hobinya ini sudah melampui batas kewajaran dan sangat
mempengaruhi keadaan sosial mereka. Ada beberapa syndrom
dalam otaku, yaitu :

ikikomori
adalah salah satu fenomena sosial yang sudah dan sedang terjadi di
Jepang yang sudah sangat mengkhawatirkan masyarakat dan pemerintah
Jepang karena lebih dari sejuta remaja Jepang pernah melakukan
hikikomori.
Hikikomori adalah perilaku mengisolasi diri di dalam
kamar dan menghilang dari aktifitas sosial di dunia nyata selama lebih
dari satu tahun. Dengan demikian, para pelaku hikikomori, yang umumnya
masih remaja, melakukan semua aktifitasnya di dalam kamar, atau paling
jauh di dalam rumah.
Lantas bagaimana cara mereka memenuhi
kebutuhannya. Biasanya hikikomori akan keluar sebulan sekali untuk
membeli perlengkapan “mengurung dirinya, mereka tetap mendapat uang dari
orangtua, bahkan terkadang mereka memaksa orangtua untuk mendapatkan
apa yang mereka inginkan. Hal yang terekstrim adalah ada juga hikikomori
yang menculik gadis kecil untuk “disimpan” sebagai “teman” di kamarnya.
mereka mungkin akan melepaskan gadis tersebut kalau mereka ingin, atau
gadis itu harus mencari jalan keluarnya sendiri, atau dia tidak akan
pernah bisa keluar lagi.
Salah satu faktor penyebab dari semakin
maraknya hikikomori adalah faktor teknologi, di mana kecanggihan
teknologi, terutama kemudahan dalam akses internet, telah menyebabkan
banyak remaja mengalami ketergantungan teknologi yang keblabasan. Semua
aktifitas pertemanan dilakukan di dunia maya. Bahkan untuk berbelanja
pun dilakukan secara online. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa
remaja Jepang yang melakukan hikikomori adalah remaja yang anti sosial.

Mungkin
orang akan menganggap hikikomori itu sama dengan otaku. Namun
sebenarnya berbeda. otaku adalah orang yang memiliki minat atau hobi
yang berlebihan sehingga mereka mengabaikan kegiatan yang lain, tapi
mereka masih berinteraksi dengan keluarga atau tenar di dunia nyata.
Seperti penggemar komik yang berlebihan, atau orang yang suka dengan
model kit secara berlebihan. Namun semua hikikomori itu otaku, karena
pelarian dari beban mereka adalah dengan memfokuskan diri pada hal yang
mereka sukai agar mereka tidak teringat akan sakitnya pergaulan sosial
itu.
Di Jepang, otaku lebih disudutkan ke pria yang sangat culun.
Dan ditekankan ke arah pria, meskipun tidak ada survey jumlah otaku
wanita dan pria di Jepang. Hal ini dikarenakan, para otaku pria di
Jepang sangat kurang untuk bergaul dengan teman-teman, dimana mereka
lebih memilih untuk hidup menyendiri di dalam kamar.
Walaupun mungkin
otaku wanita lebih banyak , namun mereka sangat pintar untuk
menyembunyikan. Kebanyakan dari mereka bermain game sampai larut malam,
dan lupa akan kesehatan mereka sendiri. Dan dengan sedikit make up,
mreka akan terlihat segar di siang hari. Sehingga pria lebih terkenal
sebagai otaku.
Lalu adakah perbedaan otaku pria dan wanita ini?
Menurut
sumber, tidak begitu menjadi perbedaan apakah otaku tersebut pria atau
wanita, ataupun lebih banyak otaku pria atau wanita. Namun yang
membedakan adalah
“kualitas” dan “obsesi” mereka. Misalkan, seorang
pria otaku rela menghabiskan lebih dari 9,000yen (sekitar $110) hanya
untuk dapat tidur dan berpelukan diatas bantal anime yg mereka suka
dengan kualitas bahan yg bagus.
Disisi lain, gadis otaku tidak begitu
berminat dengan barang-barang yang mahal (dan mungkin sangat tidak
tertarik untuk berzina dengan bantal). Perempuan itu realistis. Mereka
hanya menghabiskan 3000-4000 yen ($36- $48) pada sebuah barang seperti
CD, ataupun sekitar 300 yen ($3,60) untuk folder plastik bening dengan
karakter anime yang menjadi best seller.
Hal
ini membuktikan wanita cenderung lebih hemat terhadap obsesi mereka.
Namun pria lebih cenderung memperhatikan kualitas, dan emosional serta
pemilih tentang apa yg mereka inginkan. Perbedaan lainnya adalah gadis
otaku lebih cenderung untuk bergaul keluar, lepas dari obsesi mereka dan
menunjukkan hobi lainnya. Namun tidak sama halnya dengan pria otaku,
mereka sangat tertutup dan fokus dengan satu hal yang mereka suka.Dan
voice dari karakter anime juga mempengaruhi perbedaan otaku pria dan
wanita. Jika seorang pria menyukai suatu karakter dan merasa bahwa
karakter tersebut tidak memiliki pengisi suara (dubber) yg cocok, dalam
saat tertentu, hal tersebut tidak akan mempengaruhi rasa suka nya kepada
karakter tersebut. Tetapi untuk otaku wanita, perasaan tentang suara
aktor dan karakter adalah hal yg sama dan merupakan satu kesatuan, oleh
karena itu sangatlah penting apabila diantara mereka,harus cocok satu
sama lain.”Selain itu, pria lebih cenderung menyukai karakter anime
secara berlebihan dan memperlakukannya secara eksklusif dan posesif.
Faktor penampilan anime sangat mempengaruhi otaku pria. Sedangkan
wanita, untuk suka terhadap karakter, mereka harus mengetahui latar
belakang, alur cerita, dari anime tersebut